Asu Milik Jokpin

(1) Asu Di jalan kecil menuju kuburan Ayah di atas bukit saya berpapasan dengan anjing besar yang melaju dari arah yang saya tuju. Matanya merah. Tatapannya yang kidal membuat saya mundur beberapa jengkal. Gawat. Sebulan terakhir ini sudah banyak orang menjadi korban gigit anjing gila. Mereka diserang demam berkepanjangan, bahkan ada yang sampai kesurupan. Di … More Asu Milik Jokpin

Wartawan Kekinian Harus Tanpa Kepentingan 

Verdy Bagus Hendratmoko. Mungkin tidak banyak orang yang tahu siapa pemilik nama tersebut. Namun, jika Anda adalah orang yang tertarik atau malah sedang menekuni bidang jurnalistik, wajib rasanya mengenal atau hanya sekadar tahu siapa Verdy Bagus ini. Awalnya, Verdy muda hanyalah seorang mahasiswa Komunikasi dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), yang sedang magang di bidang jurnalistik. … More Wartawan Kekinian Harus Tanpa Kepentingan 

Asu

  Sudah hampir tengah malam. Seharian tadi amat sangat sibuk. Saya. Sampai lupa kalau hanya sempat makan sekali saat sarapan. Saya ingin rehat barang sebentar. Mengistirahatkan tubuh sekejap malam. Menutup toko; kepala saya, yang memajang kata di etalase tanpa kaca. Tolong lah. Tak bisakah ia bertamu besok saja? Rindu. Tak pernah kenal waktu. Tak tahu adab. … More Asu

Banjarmasin Pukul Tiga

Jalan raya mulai sunyi. Kecuali kepala saya. Beberapa kendaraan melintas jarang-jarang. Warung-warung makan di pinggir jalan pun sudah sepi. Tak lebih dari hitungan jari yang masih buka, memberi makan yang kelaparan ketika dinihari. Satu-dua orang. Lumayan daripada tanpa pembeli sama sekali. Padahal dua jam yang lalu jalanan masih riuh rendah oleh orang yang menonton balap … More Banjarmasin Pukul Tiga

Jangan Ada Gerimis

Jangan ada gerimis di bulan Agustus. Saya menggemari gerimis. Mencintai gerimis. Hanya saja jangan ada gerimis di bulan Agustus. Enak saja! Gerimis. Hujan. Tangis. Kesedihan. Mereka mirip. Datang bersamaan. Meski tak jarang juga membawa segelintir kebahagiaan; anak-anak bermain di tengah hujan; bibir basah yang dikecup pacar-romantis katanya-; menghilangkan debu di jalanan; penyejuk napas kota yang … More Jangan Ada Gerimis

Tanpa Judul

“Bisakah kau per-erat, aku kedinginan.” Di luar hujan. Deras sekali. Kami dipaksa berdiam diri dan pintu kamar sudah kupastikan terkunci. Ia mengantuk. Aku mengantuk. Kami berpura-pura saling mengantuk. Tentu saja untuk merebahkan tubuh di satu kasur yang sama. “Aku bisa mematikan AC-nya jika kau kedinginan.” “Tentu. Tapi kau jadi tidak punya alasan lagi untuk memelukku.” … More Tanpa Judul

Sudah Pukul 11

Sudah pukul 11. Ayah belum pulang juga. Ibu masih berjaga-jaga, di sofa tua di depan Tv yang menayangkan acara yang mengklaim diri bisa membuat penonton tertawa. Pembawa acara tertawa, penonton di studio ikut tertawa, lebih keras meskipun bayarannya hanya kurang dari 1 persen dari bayaran  si pembawa acara. Ibu tidak tertawa, acaranya tidak lucu sama … More Sudah Pukul 11

Dialog Dinihari

Jam 2 pagi begini kau masih bangun, atau sedang tertidur pulas? Kuharap kau tidak tersedak atau sedang bermimpi buruk. Ya, ketika aku bermimpi tentang kita -aku dan kau- aku menganggapnya sebuah mimpi buruk. Buruk untuk kesehatan hati. Dan hatiku belum bisa beranjak pergi sepenuhnya. Kau tahu itu.  Dan buruknya, aku sering mendapatinya.  “Siapa…?”  Aku dapat … More Dialog Dinihari

Mahasiswi dan Anak Ayam

Selamat sore, selamat, kamu perempuan ke-3 yang kukirimi surat di bulan menulis surat cinta ini. Di hari yang ke-3, kenapa harus kamu yang dapat surat? Entah. Biasanya yang membuatku menulis surat kalau bukan orang yang menarik, pasti yang pernah meninggalkan kesan di keseharianku. Dan kamu, masuk yang menarik perhatianku. Bagaimana kabarmu hari ini? Mestinya baik-baik … More Mahasiswi dan Anak Ayam