Tanpa Judul

“Bisakah kau per-erat, aku kedinginan.”

Di luar hujan. Deras sekali. Kami dipaksa berdiam diri dan pintu kamar sudah kupastikan terkunci. Ia mengantuk. Aku mengantuk. Kami berpura-pura saling mengantuk. Tentu saja untuk merebahkan tubuh di satu kasur yang sama.

“Aku bisa mematikan AC-nya jika kau kedinginan.”

“Tentu. Tapi kau jadi tidak punya alasan lagi untuk memelukku.”

“Tak harus ada alasan untuk itu. Kalaupun perlu, tinggal kukatakan di luar masih hujan.”

Di luar masih hujan. Deras sekali. Hujan. Membawa berbagai perihal; cucian tidak sempat kering; atap mana yang bocor; rindu; nafsu. Tergantung ia gerimis manis, atau tengah hujan deras. Dan sekarang hujan deras sekali.

“Kau tidak akan melakukannya, kan?” -padahal ia bisa bertanya dengan cara lain “apa kita akan melakukannya?” Kalau ia benar-benar ingin. Atau “apa kau akan mencumbuku?” Misalnya. Pertanyaan retoris yang hanya perlu kujawab dengan tindakan-.

“Melakukan apa?” Tanyaku lugu.

“Ah tidak apa-apa.”

“Hei, kau itu perempuan..tidak baik berkata seperti itu.”

“Haha.. Tidak. Aku hanya bingung.”

“Apa kau takut? Tenang saja. Aku bukan lelaki seperti itu.” belum “Lagipula kita sama-sama masih berpakaian.”

“Tidak juga. Barangkali kau. Takut memulai..”

“Boleh jadi. Aku hanya ingin menghabiskan rindu.”

“Bisakah kau per-erat, aku kedinginan.”

Ia, bukan kekasihku. Sangat senang jika kudekap. Lebih-lebih dari belakang. “Aku heran tubuhmu bisa terus begitu hangat.” Katanya. Aku pun heran. Tapi aku mendapat keuntungan.

“Kau masih menulis?”

“Masih. Sesekali.” Kataku mencoba mengingat.

“Tentang apa?” Tanyanya seolah penasaran.

“Kenapa kau ingin tahu? Bukannya kau tidak terlalu suka membaca.”

“Jangan begitu. Aku hanya ingin tahu.” Mukanya memelas.

“Kebanyakan tentangmu. Yang lain. Hal lain. Lalu tentangmu lagi.”

“Benarkah, apa judulnya? Kapan aku bisa membacanya.”

“Entah. Tanpa judul. Aku tidak benar-benar menulisnya.”

“Kalau sudah beritahu aku. Bisakah kau eratkan lagi pelukanmu?”

“Aku sedang melakukannya. Dan bibirmu sudah kering lagi. Bolehkah?”

“Kau tidak perlu bertanya.”

Barangkali kapan ia bisa membacanya. Aku tak pernah menyelesaikan tulisannya. Bahkan tokoh utama-aku, dia-saja tak pernah mengawali lakon-nya. Lantas bagaimana bisa aku menulisnya. Yang kutahu cerita ini tak benar-benar berkesudahan. Sebagaimana ia tak pernah dimulai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s