Asu

  Sudah hampir tengah malam. Seharian tadi amat sangat sibuk. Saya. Sampai lupa kalau hanya sempat makan sekali saat sarapan. Saya ingin rehat barang sebentar. Mengistirahatkan tubuh sekejap malam. Menutup toko; kepala saya, yang memajang kata di etalase tanpa kaca. Tolong lah. Tak bisakah ia bertamu besok saja? Rindu. Tak pernah kenal waktu. Tak tahu adab. Makanya sekolah!

Halah. Percuma! Memaki rindu tak akan membuahkan sesuatu. Sudah kebiasaannya datang serampangan. Kadang pagi, atau siang menuju sore. Seringkali di malam hari. Juga saat-saat menegangkan ketika sedang di dalam jamban. Lama sekali saya tepekur. Banyak yang harus dibuang. Kadang lancar bebas hambatan, tak jarang juga saya begitu kesusahan. Biasanya sehabis melahap pikiran-pikiran kurang baik, walau sekelebatan. Kurang serat barangkali. Lain kali kalau berkunjung bawa buah-buahan!

Rindu memang kurang ajar. Padahal tuannya tak memerintah. Ia ambil inisiatif sendiri dengan menyemai rasa. Ia ingin hidup selama yang ia bisa. Telaten. Sampai akhirnya tumbuh menjadi rindu. Agar bisa menanam bibit baru lagi di tahap selanjutnya. Agar bisa memupuk cinta asu.

Tak usah datang. Aku tidak benar-benar menyukai tuanmu. Aku tidak perlu rindu karena setiap hari bertemu. 

“Ah, besok barangkali.”

Tidak, aku tidak. Aku tahu tuanmu cantik. Hampir-hampir tiada yang kurang. Aku suka. Tapi tak benar-benar ingin. Apalagi sampai jatuh cinta.

“Bisa jadi besoknya lagi.”

Tidak. Sungguh. Tak perlu sampai sejauh itu.

“Pasti lusa, ya.”

Terserah!

Pagi Kamis cerah sekali. Bagus. Jadi, saya tidak perlu ikut sendu seperti hari kemarin; Rabu pagi sudah dimulai dengan gerimis. Langit juga memilih menghitam agar gerimis bisa lebih lama. Dan tentu saja ada yang memanfaatkan itu. Rindu. Tapi ini hari Kamis. Langit pun tampak sangat bagus tanpa awan. Saya harus sibuk menyibukkan diri, agar Rindu tak sempat berkunjung hari ini. Saya juga pura-pura sibuk agar punya alasan tak menemui tuannya. Rasakan! Haha!

“Mencari tuanku, ya?” Tiba-tiba ada yang mengejutkan saya dari belakang.

Apa? Siapa lagi ini? “Siapa?”

“Rindu…”

Tuanmu? Astaga. Tuan yang mana lagi? “Siapa? Yang mana lagi? Aku tak pernah mencari siapa-siapa.”

“Berarti tuanku yang mencarimu. Tuh, di kepalamu banyak tuanku.”

Rindu sudah kelewat batas. Cara-caranya sungguh curang. Licik. Ia harus diberi pelajaran. Nanti saya temui tuannya. Akan saya adukan keusilannya. Biar ia dihukum karena berusaha membuat tuannya malu.

“Rindu sudah lewat batas.” Kata saya, tanpa basa-basi langsung duduk dihadapannya.

“Hah? Apanya?” Ia terperanjat bingung. “Kamu rindu sama aku?”

“Hahaha, bisa ia bisa tidak.” Saya berbicara tanpa berpikir.

“Hahah, kamu lucu sekaligus aneh.” Ujarnya

“Katakan pada Rindu, aku sudah menemui tuannya. Jangan mendatangiku lagi.”

“Iya iya. Kamu kenapa ke sini? Bukannya sibuk?”

“Tidak juga. Aku hanya pura-pura. Ya sudah, aku mau sibuk.” Kata saya sambil beranjak pergi.

“Sibuk pura-pura, ya? Haha.” Sok tertawa, padahal menggoda.

“Sibuk memikirkanmu! Ya sudah sampai nanti..” 

Sampai nanti kata saya? Tak apa. Benar begitu. Toh ada untungnya saya bertemu dengannya setiap hari. Agar tak terus didatangi Rindu.

Sudah larut malam. Seharian tadi cukup sibuk. Saya. Sampai lupa kalau sedang pura-pura sibuk. Ternyata berpura-pura menguras lebih banyak tenaga. Saya ingin tidur sampai siang kalau bisa. Besok akhir pekan. Akhirnya istirahat panjang. Sekejap habis mematikan lampu kamar, ada panggilan masuk di telepon seluler butut saya. Tanpa nama. Siapa kiranya yang menelepon saya larut malam begini? Mengganggu jam istirahat. Barangkali ada hal penting, saya angkat saja.

“Halo..” Suara perempuan. Sesaat saya seperti mengenalnya.

“Siapa?”

“Ini aku, Rindu!”

Asuu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s