Banjarmasin Pukul Tiga

Jalan raya mulai sunyi. Kecuali kepala saya. Beberapa kendaraan melintas jarang-jarang. Warung-warung makan di pinggir jalan pun sudah sepi. Tak lebih dari hitungan jari yang masih buka, memberi makan yang kelaparan ketika dinihari. Satu-dua orang. Lumayan daripada tanpa pembeli sama sekali. Padahal dua jam yang lalu jalanan masih riuh rendah oleh orang yang menonton balap liar. Sayangya tak ada yang mati malam itu. Terjatuh pun tidak. Besok barangkali.

Sial. Sungguh. Mobil tanpa pemutar musik termutakhir yang melaju di Banjarmasin dinihari. Karena radio yang masih melakukan siaran hanya satu saluran dengan musik satu album dangdut koplo bahasa Jawa. Kadang nyanyian dengan bahasa Jawa yang lebih halus. Sang supir yang sudah mengantuk bisa tidur selamanya. Sungguh sial.

Saya tengah berada di kawasan hiburan malam. Sedang bekerja sebagai teknisi mesin uang. Cukup ramai. Lalu melihat wanita cantik di dalam kotak persegi anjungan tunai mandiri. Setengah mabuk. Setengah telanjang-setidaknya begitu saya menyebutnya. Ia sedang menerima telepon dari teman laki-lakinya yang sudah pergi tapi tak kunjung mengirimkan uang. Tak lama setelahnya suasana kembali sepi. Kepala saya masih ramai.

Sekejap kemudian saya sudah berada di kawasan yang berbeda. Masih tempat hiburan malam. Yang ini lebih berkelas. Wanita-wanitanya masih muda. Mahal. Terlihat bagus dari balik kaca. Saya masih sebagai teknisi mesin uang. 

“Mas, tadi sore kartu aku ada yang ketelan.”

Wanita cantik setengah telanjang. Tapi tidak terkesan murahan. Panlok. Ia meminta tolong. Kemudian menyodorkan selembar uang seratus ribu.

“Jangan mba. Gak usah.” Saya menolak halus.

“Gapapa. Ambil aja.” Katanya ikhlas.

Saya sudah menolaknya kendati ingin. Lantas tanpa ragu saya mengambil selembar uang bergambar tokoh proklamator tersebut. Andai kata lebih banyak kartu tertelan malam itu.

Setengah jam kemudian ruang utama lantai dasar mendadak ramai. Orang-orang dengan muka lelah berduyun-duyun menuju ke luar, ke tempat parkir masing-masing yang dipasang tanda VIP. Lalu memelesat menuju entah dengan mobil yang nopolnya dicat berwarna hitam seadanya. Tak lama kemudian kembali sepi. Tempat hiburan akan ditutup. Sudah hampir pagi. Kepala saya masih sibuk oleh ramai.

Saya juga harus kembali ke kantor. Istirahat sebentar barangkali. Pulang ke rumah pagi harinya. Di dalam perjalanan ada gerombolan pribadi terhuyung ke luar dari tempat hiburan malam. Ada yang mual menahan muntah, lalu yang tergopoh-gopoh bersama teman-temannya, lalu yang dipapah teman sekamarnya. Kemudian mobil memelesat menuju entah. Semoga selamat sampai tujuan. Agar besok bisa kembali menyumbang uang untuk tempat hiburan malam. Sangat ramai. Setelahnya sepi. Tempat hiburan akan ditutup. Sudah hampir pagi.

Saya juga sudah mau tutup. Kepala saya. Sudah hampir pagi. Hanya saja masih ramai. Jadi saya biarkan saja sampai sepi. Kepala saya belum pernah tutup.

Saya lupa, rasa Banjarmasin pukul Tiga.

Iklan

2 thoughts on “Banjarmasin Pukul Tiga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s