Banjarmasin Pukul Tiga

Jalan raya mulai sunyi. Kecuali kepala saya. Beberapa kendaraan melintas jarang-jarang. Warung-warung makan di pinggir jalan pun sudah sepi. Tak lebih dari hitungan jari yang masih buka, memberi makan yang kelaparan ketika dinihari. Satu-dua orang. Lumayan daripada tanpa pembeli sama sekali. Padahal dua jam yang lalu jalanan masih riuh rendah oleh orang yang menonton balap … More Banjarmasin Pukul Tiga

Jangan Ada Gerimis

Jangan ada gerimis di bulan Agustus. Saya menggemari gerimis. Mencintai gerimis. Hanya saja jangan ada gerimis di bulan Agustus. Enak saja! Gerimis. Hujan. Tangis. Kesedihan. Mereka mirip. Datang bersamaan. Meski tak jarang juga membawa segelintir kebahagiaan; anak-anak bermain di tengah hujan; bibir basah yang dikecup pacar-romantis katanya-; menghilangkan debu di jalanan; penyejuk napas kota yang … More Jangan Ada Gerimis

Tanpa Judul

“Bisakah kau per-erat, aku kedinginan.” Di luar hujan. Deras sekali. Kami dipaksa berdiam diri dan pintu kamar sudah kupastikan terkunci. Ia mengantuk. Aku mengantuk. Kami berpura-pura saling mengantuk. Tentu saja untuk merebahkan tubuh di satu kasur yang sama. “Aku bisa mematikan AC-nya jika kau kedinginan.” “Tentu. Tapi kau jadi tidak punya alasan lagi untuk memelukku.” … More Tanpa Judul