Tentang Kesatria dan Supernova

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah berniat untuk mulai membaca seri Supernova. Hanya karena penasaran terhadap apa yang diperbincangkan orang-orang mengenai buku ini. Sampai suatu ketika saya menemukan kutipan dongeng dari buku Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Kesatria jatuh cinta pada putri bungsu dari Kerajaan Bidadari.
Sang Putri naik ke langit.
Kesatria kebingungan.

Kesatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.
Kesatria keluar dari kastel untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi, kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Kesatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Kesatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Kesatria sedih, tapi tak putus asa.


“Saya harus membaca Supernova!” batin saya memutuskan. Dimulai dari KPBJ, Akar, Petir, Partikel, kemudian Gelombang. Hingga beberapa waktu berlalu, tak salah satu pun yang saya baca. Saya lebih memilih membawa pulang dan membaca buku-buku lain. Entah apa alasannya. Mungkin di sinilah awal ketertarikan saya dengan buku-buku. Bukan sekadar membawanya pulang. Dibaca sekenanya. Terserah. Bukan sekadar itu.

Februari 2016.
Timeline aplikasi Twitter saya dipenuhi kabar gembira dari orang-orang yang baru menerima buku barunya setelah beberapa minggu atau bulan lamanya pre-order. Rupanya buku tersebut adalah seri pamungkas dari rangkaian Supernova. Pantas ramai! Bagaimana tidak. setelah 15 tahun, akhirnya Dewi Lestari atau yang biasa dipanggil oleh Addeection; sebutan untuk penggemar karya-karya Mbak Dee- Mak Suri, menuntaskan Supernova.

Kesatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi, lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun, sang Putri masih jauh di awang-awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Kesatria sedih dan kali ini ia putus asa.

Sampai satu malam, ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Kesatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun, kalau Kesatria tak mampu mendarat tepat di Putrinya, ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan, menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.

Tiba-tiba saya teringat tentang Kesatria yang belajar terbang untuk mencari sang Putri. Apakah si Kesatria benar-benar akan tamat begitu saja? Apakah sang Putri tak pernah tahu ketulusan Kesatria? Apakah Kesatria menginginkan balas dendam kepada Bintang Jatuh di kehidupan lain? Saya tak tahu. Saya sudah tertinggal jauh. Satu-satunya cara hanyalah mulai membacanya dari awal. Satu per-satu.
Sempat tersirat ide jenius untuk membeli semua Keenam serinya sekaligus. Tapi urung karena jumlahnya terlalu besar dibandingkan yang biasa saya habiskan untuk buku. Walaupun dalam beberapa waktu berikutnya saya malah kembali mengeluarkan dana lebih untuk beberapa buku lain. Anehnya dua-tiga kali.

Beberapa hari setelahnya, luapan senang para Addeection ini belum surut jua. Sampai-sampai saya memutuskan untuk menjadi salah satu dari mereka. Tak pikir panjang lagi. Saya yang tak ingin ketinggalan edisi cetakan pertama, langsung mengorder buku seri pamungkas Supernova edisi bertanda-tangan Dewi Lestari. Buku Keenam seri pamungkas Supernova, lebih dari 700 halaman yang berjudul ‘Inteligensi Embun Pagi’ sampai di tangan selang beberapa hari setelahnya.

Jadi, begini. Saya berpendapat jika saya membeli seri terakhir, maka mau tak mau saya harus membaca semuanya dari seri KPBJ sampai Gelombang jika ingin membaca seri terakhir IEP yang saya beli lebih dulu. Baiklah. Mungkin saya salah satu-atau hanya saya saja yang memang-orang bodoh yang berpikiran seperti ini. Dan benar saja. Sekejap lupa. Di waktu-waktu berikutnya saya lebih membawa pulang buku-buku lain.

Kesatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya kepada Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan, ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan.

Bintang jatuh menggenggam tangannya. “Inilah perjalanan sebuah cinta sejati,” ia berbisik, “Tutuplah matamu, Kesatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Kesatria mungil, tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan, ia merasakannya. “Berhenti!”

April 2017.
Jumat malam hari Ketujuh, saya keluar menemani si Putri Bungsu; adik saya, pergi ke sebuah Book Fair. Mencari buku murah katanya. Saya yang tadinya malas-malasan juga mulai jongkok dari satu tumpukan ke tumpukan buku bekas yang lain mencari muatan kuliah. Mungkin tulisan 10k-20k lah yang membuat saya berhenti malas. Hingga mata saya berhenti di salah satu buku. Buku Keempat Supernova, Partikel!
Lantas saya mulai mencari-cari seri lainnya tetapi hanya menemukan Petir dan Gelombang. Entah cetakan keberapa, saya lupa. Buku-bukunya masih bagus. Hanya bintik-bintik bercak ciri khas buku lama.

Saya beralih ke kasir sambil membawa 3 buku di tangan saya untuk menanyakan harga pastinya.

“Mbak, yang di tumpukan sini harganya berapaan?”

“Itu beda-beda, Mas. Yang dipegang itu ada yang 50, 40.”

“Oh gitu, makasih, Mbak.”

Kendati masih bagus untuk ukuran buku lama, harganya masih terlalu mahal. Tidak jauh berbeda dengan buku baru. Sepertinya keinginan saya mengumpulkan Supernova harus tertunda lagi.

Saya beralih ke stan buku yg memajang buku-buku lama yang masih baru. Kebanyakan buku-buku lama dari stok tahun lalu yang harganya beragam. Murah yang bahkan sangat murah hingga yang relatif.
Nampaknya ajang buku seperti ini memang waktu terbaik untuk berburu buku dengan harga sedikit lebih murah.
Saya suka kesal jika ingat perbedaan harga buku di Gramedia di kota saya dibandingkan dengan toko-toko buku di kota penerbit di Jawa, ataupun Jakarta, yang kadang dari belasan hingga puluhan ribu rupiah. Ya. Memang sudah aturan perpajakannya seperti itu. Tapi tetap saja saya agak kesal.

Sebulan belakangan saya sempat kehilangan minat baca. Membeli beberapa buku baru, tapi tak menemukan gairah membaca yang saya cari seperti biasa.

Masih di stan Book Fair. Sepertinya malam itu saya memutuskan akan membawa pulang ‘Milea’ saja yang merupakan lanjutan dari ‘Dilan 1990’ dan ‘Dilan 1991’. Sampai kemudian mata saya naik turun. Jongkok. Berdiri. Lalu jongkok lagi untuk mencari buku lain. Ini sudah jadi kebiasaan saya ketika memilih buku yang tidak ada di dalam daftar. Kadang berjalan bolak balik. Berputar dari satu rak ke rak lain sambil membawa beberapa buku di tangan. Kemudian benar-benar memutuskan untuk membawa pulang yang mana. Atau sekaligus semuanya.

Untungnya, malam itu, saya melihat sang Putri Bungsu di bawah sana. Dan juga tentu saja sang Kesatria yang ingin belajar terbang. Saya harus membawanya pulang! Inilah saatnya memulai Supernova pertama saya!

wp-image-1529093198jpg.jpg
Buku 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh.  Buku 6: IEP

Bintang Jatuk melongok ke bawah, dan ia pun melihat sesosok putri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan gugus Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Kesatria melesat menuju kehancuran.
Sementara sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan sang Putri.
Kesatria yang malang.

Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Kesatria.

Keesokan harinya saya membuka plastik yang membungkus si KPBJ dan mulai membacanya. Oh, tadinya ada dua versi sampul di sana. Yang lama dan yang baru. Saya memilih yang baru. Yang terdapat semua sebanyak delapan simbol Supernova di belakang sampulnya. KPBJ ini sebelumnya pernah terbit dengan judul yang sama pada tahun 2001. Kemudian terbit kembali sebagai cetakan pertama, Maret 2012. KPBJ yang saya bawa pulang merupakan cetakan Ketiga belas, Agustus 2016.
Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh sebanyak lebih dari 300 halaman saya lahap seharian. Cerita dengan beberapa teori fisika yang agak berat ini cukup ringan untuk dihabiskan seharian. Luar biasa. Saya puas!

Baiklah. intinya saya sangat senang dengan cerita Kesatria. Dan saya sudah teramat panjang bercerita. Tapi saya ingin bertanya dan membuat pernyataan barang satu-dua hal.

Di zaman serba digital sekarang, mendapatkan buku-buku lama sangat mudah. Tinggal pesan, dicetak, dikirim, terima, dan baca. Tak lupa juga versi canggihnya. e-Book;Electronic book.
Sudah banyak orang beralih ke versi elektronik ini. Selain lebih murah, juga tak bisa rusak dan tak makan tempat. Namun, masih banyak pula yang lebih suka buku fisik. Saya salah satunya. Saya masih suka menciumi bau kertas ketika dibuka.

Lalu, apakah orang yang mengoleksi buku-buku langka berdasarkan cetakan pertama itu benar-benar ada dan masih ada? Atau hanya karakter fiksi dari novel-novel yang saya baca?

Ah, sudah malam. Saya belum memutuskan apakah sebaiknya tidur atau melamun di bingkai jendela. Barangkali ada Bintang Jatuh.

Saya pun belum juga memutuskan, apakah jika ada bintang jatuh harus membuat permohonan atau sekalian saja menyumpahinya jatuh dengan keras. Haha. Entah yang mana.

Ah, saya terlalu banyak bergumam.
Besok saya hendak pergi ke toko buku.
Mencari Akar. Membawanya pulang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s