Sudah Pukul 11

Sudah pukul 11. Ayah belum pulang juga. Ibu masih berjaga-jaga, di sofa tua di depan Tv yang menayangkan acara yang mengklaim diri bisa membuat penonton tertawa. Pembawa acara tertawa, penonton di studio ikut tertawa, lebih keras meskipun bayarannya hanya kurang dari 1 persen dari bayaran  si pembawa acara. Ibu tidak tertawa, acaranya tidak lucu sama sekali, dan ibu tidak dibayar. Lebih-lebih Ia tidak tahu menahu tengah menonton apa. Ia hanya memandangi Tv, tercenung. Aku pura-pura tidur, sesekali mengintip Ibu dari balik gorden pintu kamarku–yang tanpa pintu. Ibu menunggu Ayah mengetuk pintu.

Aku bangun pagi sekali. Ibu bangun lebih pagi lagi. Aku merapikan tempat tidurku, mandi kemudian. Aku harus sekolah. Ibu menyiapkan bekal untukku. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Ibu tidak tidur semalam.

“ayah tidak pulang, bu?”

“ayahmu masih banyak kerjaan.”

Sudah hampir pukul 11 malam. Ayah masih belum pulang. Ibu menonton Tv. Kali ini gosip tengah malam; hampir semuanya berita skandal artis. Aku mengintip dari balik gorden pintu kamarku–yang tanpa pintu. Malam ini aku tidak ingin tidur, kalau-kalau Ayah pulang, atau menemani ibu yang tidak tidur. Setengah jam kemudian bantalku sudah basah oleh air liurku. Ibu masih menunggu Ayah mengetuk pintu.

Ibu membangunkanku. Sudah pagi ternyata. Hari ini hari minggu. Ia menyuruhkan membasuh muka, lalu sarapan. Sudah ada Ayah di meja makan. Ia tersenyum. Ibu tersenyum. Aku riang ria. Ayah sudah pulang. Tapi, masih ada lingkaran hitam di bawah mata Ibu.

“ayah pulang pukul berapa tadi malam?” tanyaku senang

“pukul 2 dinihari, nak.”

“larut sekali.” Kataku

“kau, kalau sudah besar nanti mungkin akan kerja lembur juga untuk anak istrimu.” Katanya memberi gambaran pekerjaan yang dilakukan orang dewasa kelak.

“ah..begitu ya. Aku tidak ingin jadi besar kalau begitu.”

Belum pukul 11 malam. Ibu menonton Tv. Ayah menonton Tv. Aku duduk di antara keduanya. Hari ini ayah pulang cepat. Dan acara lawak di Tv senin malam cukup lucu. Ayah tertawa, aku tertawa, ibu tersenyum. Sudah tidak ada lingkaran hitam di bawah mata ibu.

***

Sudah lewat pukul 11. Ayah belum pulang. Ibu tidak menonton Tv, ia hanya membaca buku. Aku mengintip dari balik gorden pintu kamarku–yang tanpa pintu. Barangkali Ayah sebentar lagi pulang. Sejurus kemudian aku tertidur pulas. Ibu masih menunggu Ayah mengetuk pintu. Ayah tidak pulang.

* * *

“Malam ini jangan tidak pulang ya..”

“Iya, aku pulang kok.”

Sudah pukul 11. Ayah masih belum pulang. Ibu terjaga di depan Tv. Ia hanya memandanginya kosong, termangu. Aku pura-pura tidur, sesekali mengintip Ibu dari balik gorden pintu kamarku–yang tanpa pintu. Ibu menunggu Ayah mengetuk pintu. Ayah pulang, ke tempat istrinya yang baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s