Pesona

Hai

Kita tidak saling kenal. Tidak pernah tahu satu sama lain -kau, hanya kau. Aku tahu siapa kau.-

Ini surat biasa. Bukan surat tagihan kartu kredit, atau surat penangkapan. Kau boleh menganggapnya surat cinta. Atau, hanya surat penggemar saja.

Aku memang sudah biasa mengirimkan surat seperti ini, yang kukirimkan ke banyak orang. Aku sudah tidak pernah lagi cukup hanya dengan mencintai seseorang. Ah, kalian kaum hawa terlalu spesial untuk dilewatkan begitu saja. Bukan, bukan karena aku bangsat. Secara teori aku tidak terikat dengan seseorang. Tentu saja aku bebas mencintai dan dekat dengan siapa saja. Jadi kukirimi saja semuanya surat cinta. Kau salah satunya. Tenang saja, aku tidak pernah menyurati seseorang secara acak. Kau masuk salah satu yang kusukai.

Pagi-pagi begini, kau sedang apa? Ini masa liburan setelah final test anak kuliahan. Oh, kau masih tidur? Tentu saja, orang cantik harus tidur yang cukup.

“Liat deh, cantik.” “Iya, bagus banget..” Celotehan gadis-gadis yang memandangimu dari bangunan lantai 3 ketika melihatmu memasuki halaman kampus. Aku yang tepat berdiri di sebelah mereka sontak ikut melihat dari ketinggian. “Iya.” Batinku membenarkan.

Aku hapal betul caramu menyibak rambut tebal yang dicat berwarna agak kuning kemerahan itu. Terlihat indah, bagus. Cocok dengan wajahmu yang cantik. Kau sadar benar bahwa punya rambut yang bagus. Ya, itu memang pesonamu.

Di setiap kesempatan, ketika berpapasan kau selalu curi-curi pandang kepadaku ke setiap lelaki yang menurutmu menarik. Aku tahu kau sedang mencoba menebar pesona. Begitu kau merasa bosan dengan penampilanmu -yang menurut kami kaum lelaki sudah seakan-akan betina yang menguarkan aromanya di musim kawin- di minggu berikutnya kau tutupi paras artismu dengan hijab kekinian. Kontras.

Aku sendiri pangling ketika kali pertama melihat perbedaan penampilanmu. Bukan karena pesonamu. Tetapi ada sesorang yang berbeda di balik penutup kepalamu. Sesorang yang lebih misterius dengan rambut yang menyala. Kini kau jadi dua orang yang berbeda. Yah, kau sedang mencari tahu gaya seperti apa yang lebih memikat, bukan?

Baiklah. Kurasa cukup. Baiknya kusudahi saja surat ini. Mungkin di waktu berikutnya kita bisa saling bicara satu sama lain. Atau aku hanya akan tetap memandangimu dari kejauhan, tanpa pernah untuk sekadar “say hai” atau berkenalan. Atau, barangkali takdir berkata lain. Kita bertemu di suatu garis yang di mana ada iblis ikut campur di dalamnya. Entahlah. Siapa yang tahu.

Tertanda,

Aku, yang bisa jadi siapa saja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s