Ini Bukan Curhat

Entah kenapa, sepertinya ada yang berubah dalam diri saya. Fashion, vision, pandangan hidup, atau apalah itu. Yang pasti tidak secara tiba-tiba, melainkan melalui proses -yang meskipun saya rasa cukup singkat- dalam beberapa tahun belakangan.

Saya adalah orang yang cepat sekali merasa bosan, apabila hal tersebut tidak membuat saya berkembang lebih jauh. Baik itu perihal pekerjaan, kegiatan, pun benda.Tetapi, yang mengherankan adalah, aktifitas saya yang bisa tidak melakukan apa-apa ketika di rumah. Hal yang sangat super mustahil mendatangkan perkembangan. Anehnya, hal ini tidak pernah terasa membosankan. Ini berbahaya! Sama sekali tidak produktif! 

Mencuci, mandi, makan, menonton tv, membaca buku, tidur, dan lain-lain. Aktifitas yang dilakukan kebanyakan orang, tapi masih belum bisa dikatakan produktif apalagi berkembang.

Membaca buku, aktif di media sosial, blogging-blogwalking adalah kegiatan yang bisa dibilang cukup produktif dan berkembang. Tetapi apa jadinya jika hal tersebut tidak menimbulkan feedback pada kehidupan nyata? Bukankah sama saja? Namun saya percaya dan yakin belum waktunya, hanya belum. Tunggu saja, hal seperti ini akan berpengaruh besar pada produktifitas dan perkembangan. Pasti.

Bekerja di salah satu event organizer. Menyetir sebuah bus berlogo nama perusahaan, dan membawa wanita-wanita SPG cantik nan seksi. Bekerja sambil hura-hura, ngobrol dengan SPG yang cantik-cantik. Saya tak tahu apa yang bisa saya dapatkan di sana. Rutinitas yang jadi membosankan.

Kemudian bekerja pada sebuah perusahaan pelayanan jasa keuangan, yang melayani Bank besar. Dan resign karena suatu alasan.

Lalu, bekerja di tambang batubara. Dari yang tadinya bekerja kantoran, menjadi mekanik trailer, sampai welder. Lagi-lagi rutinitas membosankan. Saya tak tahu apa lagi yang bisa saya las -pekerjaan ini terlalu berat untuk saya pribadi-. Tak ada juga yang meminta dibuatkan sebuah menara dari baja seperti eifel. Tak banyak pengaruh yang saya rasakan disana -kecuali luka bakar dan sebagainya-.
Dan sekarang saya memilih untuk meneruskan kuliah saja saat ini.

Perempuan. Maaf, saya juga cepat bosan dengan perempuan. Bukan karena seperti saya tiap pagi makan roti yang diolesi selai, ditambah segelas susu, bukan. Tetapi lebih ke: tak cukup satu, mata keranjang, terlalu menyukai keindahan (perempuan), terlalu banyak keindahan yang sangat disayangkan untuk dilewatkan.
Sama berengseknya? Iya, saya memang berengsek, bajingan malah. Dan saya tahu pasti kebanyakan laki-laki seperti ini. Normal, laki-laki.

Tetapi, sekarang saya sudah mulai uninterested dengan perempuan. Saya tidak normal? Saya jadi gay? Tidak, tenang saja. Saya masih normal. Masih suka perempuan. Masih nafsu. Coba sini, kasih satu.

Hanya perkara malas membawa perasaan di dalamnya. Terlibat dramanya. Saya tak ingin menyakiti hati perempuan lagi.

Mari kita berkawan, bergaul seharian seperti kebanyakan orang, atau mungkin bercinta di setengah malamnya. Hanya sekadar suka sama suka, tanpa perasaan lebih.

Saya tak tahu, dalam hal ini apakah disebut kemajuan atau malah kemunduran. Sampai-sampai pernah kepikiran: tak menikah pun tak mengapa. Saya merasa akan ada lebih banyak hal yang saya dapat apabila sendiri.
Terdengar seperti pembelaan atas pertanyaan kedewasaan, ya? Saya yang masih ingin bersenang-senang dengan petualangan tanpa adanya sebuah komitmen.
“Sayang, beras sama minyak goreng habis!” Atau “Papah, cepet pulang! Mamah kesepian.” 

Apakah dengan adanya sebuah pernikahan, seseorang bisa dikatakan dewasa? Tidak juga, kan?

Namun sekeras apapun saya berucap: “menikah itu gampang. Nanti saja lah, kapan-kapan. Perempuan gak abis kok. Masih senang sendiri, bebas.”  Tetap pada akhirnya akan bertanggung jawab dengan rumah tangga saya sendiri, dan menjadi kepala keluarga dari istri dan anak-anak saya. 

Halo.. Kamu yang akan mengerti kebiasaanku, berpikiran sama denganku. Aku percaya kita akan bertemu di suatu tempat. Entah kapan. Atau malah kamu yang sedang membaca tulisan bodohku ini. Oh..hey, halo 🙂

Meski saya bukanlah orang yang perfect -bahkan dalam satu hal pun- akan tetapi yang saya butuhkan adalah bergaul dengan kelompok, teman-teman who have the personality of an abstract concept but an open mind. Not people with flat head (sorry). Tentu saja untuk belajar sesuatu yang akan menambah wawasan saya.

Tinggal di lingkungan baru, yang lebih beragam. Bukan di tempat orang-orang yang sangat suka menilai penampilan, bahkan berkomentar tentang hidup sesorang. Udahlah, hidup juga hidup dia ngapain kita yang repot!

Barangkali pekerjaan yang cocok buat saya adalah pekerjaan yang kerjanya jalan-jalan. Banyak sekali pelaku pekerjaan impian ini, salah satunya: orang-orang dari Wonderful Indonesia, yang saya ikuti kicauan, dan tulisannya di media sosial.
Pergi ke tempat baru. Benar-benar lingkungan baru. Bertemu dan membaur dengan penduduk lokal. Mengeksplore tiap-tiap keindahan tempat dan budayanya.
Menceritakan pengalaman mereka yang mengangkat destinasi wisata & budaya nusantara; Indonesia itu kaya! Luar biasa ragamnya, tapi tetap satu jua. Bhinneka tunggal ika!
Kemudian perjalanan berikutnya ke tempat yang berbeda lagi.

Ahh.. Bekerja sembari liburan. Bebas stress. Benar-benar sebuah pekerjaan impian. It will never be boring.


F.n : satu lagi, penulis. Mereka benar-benar melakukan pekerjaan karena kegemaran. Isi kepala mereka begitu rahasia. Ada semesta yang berbeda di dalam sana. Memabukkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s