Obeng Plus – Minus (Perihal Keyakinan Yang Berbeda)

Ku ucap ‘Basmallah‘ singkat, dengan sikap hendak menyuapkan hidangan ke dalam mulut. Namun, kuputuskan untuk menundanya ketika melihat perempuan yang duduk tepat di samping kiriku, sedang menggenggam kedua tangannya yang ia taruh tepat di depan wajah orientalnya, dengan mata tertutup, do’anya khusuk.

“Udah?” Kataku dengan senyum karena suka melihat caranya mensyukuri makanan yang ada di hadapannya.

“Udah, yuk makan” balasnya dengan senyuman juga.

Perempuan itu, ia datang bersamaku. Kami singgah ke sebuah rumah makan yang menjual ayam bakar khasnya, untuk makan siang bersama.

Kali ini aku tamu di kotanya. Di samping untuk jalan-jalan, tentunya juga untuk menemuinya.

Ia, kekasihku? Bukan, ia bukan, belum.

“Gimana wirid subuhnya, selesai kah?”

“Sudah daritadi, hari ini jadi jalan?”

“Jadi, tapi setelah kebaktian.”

“Oh iya ini hari Minggu ya, beres.”

“Sip, langsung samperin ke rumah aja.”

“Siaaaap..”

Pernah ketika kami gagal hendak ke suatu tempat dikarenakan hujan turun cukup deras. Memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan juga percuma karena hanya naik motor. Ia mengusulkan supaya kami lebih baik berbelok arah ke tempatku menginap. Aku setuju, daripada di luar mandi hujan dan besoknya sudah demam.

Rencana kami hari itu hanya diisi dengan menonton TV sambil tiduran, di kasur yang sama, di satu bantal yang sama. Di sana ada dua ranjang bersebelahan, tetapi ia lebih memilih seranjang denganku, sembari berpelukan, kemudian tertidur.

Ia, kekasihku? Bukan, ia bukan, belum.

Sebatas tidur seranjang sembari berpelukan, aku tidak macam-macam. Aku tidak ingin bermain-main dengannya. Entah malaikat apa yang menepuk pundakku saat itu. Meskipun sempat ada setan berbisik juga di sana yang membuatku mengecup bibir ranumnya.

Aku tahu dengan jelas, bahwa kami berbeda. Tetapi apakah salah jika demikian? Apakah perkara berbeda keyakinan akan terus dijadikan alasan sebagai tembok besar yang menghalangi perasaan? Faktanya hukum di tanah air mengatakan iya. Terlebih agamaku sendiri.

Lebih suka film berwarna ketimbang hitam putih tapi membenci perbedaan? *

Kami adalah dua orang dengan latar belakang yang berbeda soal keyakinan, tetapi menjadi sepemikiran ketika berdiskusi perihal lainnya. Sama halnya dengan ritual kala di atas meja.

Ia, kekasihku? Bukan, ia bukan, masih belum. Dan tetap akan menjadi bukan.

Kita layaknya ambigu sebuah obeng. Padahal obeng ada dua jenis, plus dan minus. Yang berbeda sekaligus sama. Atau kenapa kita tidak menjadi magnet saja? Yang malah akan saling tarik menarik jika berbeda kutub.

“Maaf..” Suaranya berat. “Aku tidak bisa menjalani komitmen berbeda keyakinan ini” begitu, katanya.

_____________________________________

*block quotes twit @ndigun 30 Mei 2015

Iklan

5 thoughts on “Obeng Plus – Minus (Perihal Keyakinan Yang Berbeda)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s