Cahaya

“Aku mencintaimu dalam diam, seperti nyala lilin. Tidak sebenderang neon memang. Namun, dia mampu menghanguskan seluruh gedung.” – Lentera Padam (Truth Or Dare – Rons Imawan)


Namanya Lentera. Entah kenapa Ayahnya memberinya nama seredup itu, sementara adik perempuannya mengusung nama seterang matahari. Lentera dan Mentari. Dua nama itu berkorelasi, tetapi jelas tak sepadan dari segi apapun.

Yang satu terang, satunya lagi remang. Euforia, Aleksitimia. Ekstrover, dan hanya Introver. Tetapi, yang pasti keduanya sama-sama bentuk dari Cahaya. Iya, Cahaya. Aku akan bercerita tentang Cahaya saja, bukan perihal Lentera dan saudaranya.

Orang yang menyalakan lilin, selalu lebih baik baik daripada yang mengutuk kegelapan – Anon

Sejatinya, Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang kasat mata. Disebutkan juga merupakan radiasi elektromagnetik  baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak.

Namun, menurutku, Cahaya yang ini tidak kasat mata. Atau kasat mata, tetapi hanya berlaku untukku saja; hanya aku yang menyadarinya, hanya aku yang di izinkannya untuk bisa melihatnya.

Cahaya yang ini bukan paket partikel Foton, bukan perkara dualisme gelombang-partikel. Bukan pula perihal gelombang-partikel yang ingin di deskripsikan oleh ‘Dee’ di dalam Supernova miliknya; Kesatria, Putri Dan Bintang Jatuh-Akar-Petir-Partikel-Gelombang, yang masing-masing punya sifat dan karakter yang sangat jauh berbeda. Pun Cahaya yang ini, Ia juga berbeda. Cahaya versiku sendiri. 

Untuk mengetahuinya tidak harus mengerti optika. Pun untuk memahami sifat-sifatnya, tidak harus dengan pendekatan paraksial geometris macam refleksi dan reaksi, lalu interferensi, difraksi, dispersi, polarisasi. Cahaya yang ini bukan bagian dari fisika!

Ia Cahaya yang berbeda. Barangkali aku hanya perlu membawa hati, yang penuh dengan perasaan, karena ia sudah mulai mengacaukan rasa-rasaku.

Jika Spektrum dipersepsikan secara visual oleh indera penglihatan sebagai warna, maka tidak demikian dengan yang satu ini.

Aku melihatnya sebagai seorang perempuan berwajah manis. Iya, Cahaya, dia seorang perempuan. Cahaya, bukan nama panggilan atau semacamnya. Hanya saja namanya benar-benar adalah Cahaya.

Dia, cantik. Sangat berbeda dari -cantik yang menurutku cantik- biasanya. Ada sesuatu darinya yang membuatku sangat tertarik.

Tidak! Aku tidak menyukainya, aku hanya tertarik saja, bukan menyukainya. Tertarik belum tentu suka. Belum..

Martapura, 19 April 2015

Iklan

2 thoughts on “Cahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s