Lelaki Berengsek

“Sudahlah, Sha! Kita tidak akan pernah bisa bersama!”  Tegasnya, sontak membuat pengunjung cafe yang lain memperhatikan kami

Sudah belasan kali kudengar kata serupa. Namun masih tak jauh berbeda. Tetap saja menimbulkan luka, apalagi untuk perempuan sepertiku. Tajam, bagaikan pisau yang baru bersua dengan pengasahnya. Lidahnya memainkan perannya dengan sangat baik. Lalu, hatiku, kembali dengan luka sisa kemarin, ditambah yang baru setiap harinya.

“Kasih aku alasan, Dimas.”  Ungkapku, tanpa berani memandangnya. Hanya memandangi gelas kopi yang sudah kuminum setengahnya ketika menunggunya.

“Entahlah, Alisha. Hanya saja aku merasa, kita tak akan pernah menjadi KITA.”

Lelaki itu tak pernah memberiku jawaban. Selalu saja kata-kata yang terdengar bodoh seperti barusan. Kau tahu apa yang lebih bodoh dari kata-katanya? Lelaki itu sendiri. Dia, Dimas. Dimas yang tak pernah mencoba menyambut hatiku. Dimas yang tak pernah sedikit saja mau untuk mengerti perasaanku. Dan apa kau tahu lagi, yang lebih bodoh darinya? Aku, iya, aku. Aku jauh lebih bodoh dari Dimas. Sudah belasan kali Dimas menolakku, mencoba mematikan debar di dadaku tiap kali kutemui sosoknya. Namun, aku tetap tak bergeming, tetap bertahan dengan perasaanku yang bertepuk sebelah tangan.

“Kau berengsek, Dimas!”  Iya..dia berengsek, bukan bodoh. Aku..yang bodoh, hanya aku  “kau benar-benar berengsek!”  Kataku sedikit berteriak, hingga seluruh pengunjung cafe memandangi kami dan mulai berbisik-bisik dengan teman semejanya.

“Maafkan aku, Sha..”  Katanya, disusul tatapan penuh rasa bersalah. Kini matanya yang memainkan perannya dengan baik. Aku lemah ketika menatap lekat matanya yang coklat. Matanya mampu meredam seluruh geram yang sudah kupersiapkan. Amarah yang menunggu untuk kubuncahkan seakan tenggelam dalam-dalam, kemudian padam. Sudah kubilang, kan, kalau aku bodoh, terlalu bodoh hingga terus mau di tipu oleh matanya.

“Maaf? Maaf, katamu?”  Enak saja.. Lelaki itu memang menyebalkan.

“Aku benar-benar menyesal.”  Iya, sudah seharusnya dia menyesal.  “Aku tidak bisa menerima cintamu, masih ada hal yang lebih besar yang ingin kucapai.” Katanya meyakinkanku.

‘Hal besar’, dan aku hanyalah hal kecil yang tak pernah ia gapai. Entah hal besar seperti apa yang ingin dikejarnya. Cita-citanya, barangkali. Wajar saja, dia sibuk mengurusi bisnis online miliknya dan sedang menyelesaikan kuliahnya.

Aku mengaduk kopi dingin di hadapanku dengan sendoknya yang kecil, sehingga mengeluarkan bunyi khas. Tidak, aku tidak ingin meminumnya. Percayalah, aku sudah tidak ingin meminum kopi dingin menyedihkan itu. Sama menyedihkannya sepertiku. Aku hanya ingin mengisi kekosongan yang terjadi di antara kami. Hingga kemudian tanganku berhenti memutar-mutarkan sendok di dalam gelas kopi.

“Kau tahu, keperawananku tak akan bisa kembali, kan?”  Seketika suasana kembali hening di sekeliling kami..

Aku melanjutkan mengaduk kopi..

“Salahku, maaf..”  Hanya itu yang keluar dari mulutnya

“Dim..”

“Iya, Sha ada apa?”

“Aku menyerah.”  Aku lelah..

“Sha, kau baik-baik saja?”

Baik-baik saja katanya? Apa aku baik-baik saja? Pertanyaan macam apa itu.. Bagaimana bisa lelaki itu mengucapkan kalimat seperti itu! Ahh, dia memang berengsek. Kau tak berperasaan, Dimas.

“Aku baik-baik saja.”  Terdengar lirih, tapi mencoba tegar..  “Aku mengerti, kau dan semua cita-citamu, aku mengalah.”  Kataku kalah.

“Terima kasih, Sha. Maafkan aku..”  Katanya kurang ajar. Kemudian dia pergi begitu saja.

Pun aku, pergi setelahnya. Tanpa adegan melihat punggungnya menjauh seperti orang kebanyakan yang mencoba merelakan kepergian dan kehilangan.

Besok ada ujian kelulusan di SMA ku, aku tidak ingin ujianku juga gagal. Apalagi hanya karena lelaki sepertinya.

 

 

***

 

Sudah lebih dari satu jam aku berputar-putar di dalam Mall, melihat-lihat hal menarik dan membeli beberapa buku untuk dibaca. Ya, sudah jadi kebiasaanku sambil mengisi waktu libur, dan menunggu dibukanya pendaftaran masuk ke Universitas, otakku harus di beri makan dengan bacaan-bacaan ringan. Hingga akhirnya aku tersadar kalau perutku juga harus diberi makan, ketika mulai bergetar keroncongan.

Setelah berputar-putar di dalam Mall cukup lama, berada di ruangan terbuka mungkin baik untukku, paru-paruku perlu udara segar, bukan udara yang berasal dari pendingin ruangan. Jadilah aku menuju food court yang berada di lantai dasar. Tempatnya terbuka, meskipun cuaca sedang panas, namun di sana tetap teduh, nyaman, angin sejuk berhembus pelan, tenang. Aku merasa jauh lebih baik dibandingkan dengan dua bulan yang lalu.

Sembari menunggu makanan yang kupesan diletakkan di atas mejaku, aku melihat orang-orang disekitarku. Ada yang sedang lahap menyantap makan siangnya, ada yang sedang meniup-niupkan asap dari rokoknya ke udara, ada yang sedang sibuk dengan laptopnya.. “Heeu, nampaknya ia sedang deadline.”  Dari kejauhan nampak juga ada pasangan yang sedang bertengkar, Gadis SMA, dan pacarnya yang lebih tua. Aku memicingkan mataku.. “Sepertinya gadis itu menangis, iya.”  celetukku sambil tersenyum. Aku senang? Tidak. Aku hanya merasa tahu pasti kenapa gadis itu menangis. Apalagi, kalau bukan dikecekawakan. Kan?.

Makanan yang kupesan sudah sampai di atas mejaku, sebaiknya kumakan selagi hangat. Tak lupa juga aku berdo’a sebelum makan.. “Sudah kubilang, kan. Kalau lelaki itu berengsek..” Kataku di dalam do’a. Sambil mengunyah makanan, senyum tak bisa lepas dari wajahku. Bukan karena makanannya yang kelewat enak, rasanya biasa saja. Tak ingin berlama-lama, kuhabiskan segera makananku, dan bergegas pulang setelah membayar di kasir.

“Sudah kubilang, kan. Kalau lelaki itu berengsek..”

 

Benar kan? Apa kataku, lelaki itu memang berengsek. Entah gadis SMA mana lagi yang di permainkannya hanya untuk memuaskan nafsunya. Iya, dia. Lelaki yang kulihat di area foud court. Dimas! Lelaki berengsek.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s