The Full Moon

Kau,
Yang namanya seindah bulan

Full Moon-terdengar seperti judul film dengan beberapa serigala di dalamnya-tapi, memang seperti itu kan, namamu. ‘Purnama’

Hei, lama tak bersua. Aku hampir lupa bahwa kau juga pernah hadir dalam hidupku. Mengisi celah kosong di dalamnya, dan mendapat peran dari setiap dramanya. Meskipun hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Bagaimana kehidupanmu sekarang? Sepertinya jauh lebih baik. Kulihat kau tengah bekerja di sebuah toko kosmetik. Oh apa kau lupa, kalau rumah kita sekarang berdekatan? Bukankah sekarang kau sekeluarga pindah ke sebelah rumah nenekmu? Kurasa tidak, kau tidak lupa. Kau hanya malu bertemu denganku. Iya, sejak kali terakhir kita saling bicara, sejak aku bilang bahwa aku benci dengan jenis wanita sepertimu. Semenjak kejadian itu, kau dan aku menganggap masing-masing dari kita tidak mengenal satu sama lain. Tapi, percayalah itu hanya dulu. Sekarang sudah berbeda, aku sudah melupakan semuanya yang telah lalu.

Kau, adalah perempuan pertama dengan perawakan yang lebih tinggi dariku. Entah kenapa semenjak itu aku menyukai perempuan yang tingginya sedikit melebihi dari tinggiku sendiri. Iya, itu gara-gara kau.

Aku hampir lupa suaramu, tapi tidak dengan cara bicaramu. Hanya dengan bicara, tanpa kata-kata manis, kau sudah bisa membuatku tersenyum. Ahh, cara bicaramu, aku merindukan itu sekarang. Sial..

Jadi, apa salahnya kalau sekarang kita bertemu. Hanya untuk saling bertukar obrolan saja, berteman seperti sebelumnya.

Tertanda,

Aku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s