Sudahlah

Kau,
Yang dulu pernah ku panggil kekasih

Kasih, seperti yang bisa kau lihat, semuanya sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir, habis; cinta yang dulunya pernah ada, hilang tak bersisa, sedikitpun. Semoga tetap demikian, hingga tak perlu lagi ada pengulangan di masa yang akan datang. Segala hal tentang rasa, yang telah tertuang dalam wadah bernama hati, juga sudah terbungkus rapi. Jadi kenangan, yang bisa di buka sesekali, atau di buang barangkali. Manis, memang, tapi hanya pahitnya saja yang kini tersisa.

Kasih, sungguh, tak satupun yang ku sesali. Malahan semua perihal cinta dan perih, mampu menghiasi hidupku. Memberi warna di tiap kisahnya.

Oh kasih, jangan kau sesali ini. Semua sudah berakhir. Bukan kamu tak cantik lagi, bukan. Kamu, masih cantik seperti dulu. Masih saja sama seperti kali pertama, saat semestinya semua akan mampu terangkum manis. Namun, Tuhan memilihkan jalan berbeda. Semuanya sudah berakhir. Sungguh, tak sedikitpun ku sesali. Mungkin sedikit perih yang ada mampu mendewasakan aku dan kamu.

Kasih, apa kau menganggapku berdusta? Semalam aku bilang bahwa itu adalah surat terakhir. Dan sekarang aku mengirimu surat. Tidak. Tentu tidak, kasih. Aku, sedang bernyanyi. Bukan menulisimu sebuah surat. Iya, mari kita sepakat saja kalau aku sedang bernyanyi, kekasihku.

Ahh, sudahlah.. Untuk apa aku bernyanyi di sini, di hadapanmu. Bodohnya aku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s