Kalawa Atei

Kau, pasti tahu kenapa judul surat ini kunamakan demikian. Gila? Ya, aku memang gila

Aku tidak dapat menemukan pembuka yang pantas untuk surat ini. Bagaimana kalau..
Hai, halo. Selamat sore. Atau mungkin juga, Selamat malam. Apa kabar? Tentu baik-baik saja, kan? Jangan berburuk sangka dulu. Aku menyapamu bukan untuk mencoba mengambil hatimu lagi. Bukan, bukan untuk itu. Karena aku tahu kau sangat membencinya. Jangan lagi kau menghindar-seakan hilang di telan bumi, kau hilang dari jangkauanku begitu saja-jadi, tolong. Baca saja sampai selesai.

Sepertinya, hari ini adalah tahun ke-Tiga grup vokal mu itu. Aku mengingatnya? Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak mengingat persis tanggalnya. Hanya tadi sempat melihat beberapa kicauan temanmu yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk grup vokal itu. Jadi, malam ini kau akan menghadiri pestanya bersama dia? Bodohnya aku. Tentu saja iya. Aku harap kau tidak mencari cari alasan untuk menghadiri pesta seperti tahun pertama ketika menghadirinya bersamaku. Katamu, ibumu tidak suka kalau kau ikut grup vokal itu.

Aku masih ingat, ketika aku pergi ke kotamu untuk beberapa hari. Hanya untuk bertemu denganmu. Dan malam itu kau memintaku secara khusus, untuk menemanimu pergi ke pesta. Tentu saja aku senang. Ini permintaan khusus darimu. Selama beberapa hari aku tinggal, aku merasa menjadi lelakimu. Jalan bersama, makan, tidur… Aku senang untuk beberapa hari yang singkat itu.

Waktu itu, susasana masih berbau Valentine. Tepat tiga hari setelah hari kasih sayang itu. Persis hari ini. Baru saja aku sampai di penginapan dekat rumahmu, kau sudah memintaku segera ke rumahmu. Apa kau masih ingat itu? Kurasa kau sudah melupakannya. Kemudian tanpa ragu kau langsung memintaku untuk bersiap menemanimu menghadiri pesta ulang tahun grup vokal itu. Dan kau memintaku berbohong kepada orangtuamu, dengan berdalih memintamu menemaniku makan malam. Ahh..dasar

Kita pergi ke pesta dengan motor kecil. Disertai hujan yang jatuh perlahan dengan rintik-rintik kecil. ‘Aku kedinginan..’ Ucapku dengan sedikit menggigil, yang kemudian tanpa menunggu lama kau eratkan pelukan tanganmu di belakang punggungku.
Aku rasa, kau juga sudah melupakan yang itu.
Sesampainya di tempat acara, kau tanpa malu memperkenalkanku sebagai pasanganmu. Aku yang masih bingung saat itu hanya menanggapi beberapa pertanyaan dari teman-temanmu dengan senyuman.
Apa kau mengingatnya? Kurasa tidak.

Aku mempersilakanmu menikmati waktu dengan teman-temanmu yang sedang bernyanyi-nyanyi kecil dengan sedikit bercanda. Aku senang melihatmu tertawa. Kubiarkan saja seperti aku. Aku memilih menikmati secangkir kopi dan hujan saja yang saat itu turun dengan derasnya ‘Bagaimana caranya pulang kalau hujannya seperti ini..’ gumamku, sebelum akhirnya dikejutkan oleh suaramu yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. ‘Kau kedinginan?..’ ucapmu sembari lebih mendekatkan badanmu dengan badanku. ‘Sedikit..’ Kataku dengan sedikit senyum. Kau pun tersenyum dengan manisnya. Aku tidak pernah lupa senyuman itu. Senyumanmu malam itu.

Itu terakhir kalinya kita bertemu, tepat dua tahun yang lalu. Aku masih terus mencoba menghubungimu. Hanya untuk meminta maaf. Hanya untuk menanyakan lebih jelas kenapa kau memilih untuk menghidar. Ada apa denganku? Kita? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak pernah benar-benar mengerti.

Tertanda,
Ahh, kau pasti tau siapa aku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s