Kenanglah Senja, dan Balon Udara

barya-wresthi-kahwa


Kau masih duduk di sampingku, beralaskan rumput yang basah bekas hujan pagi tadi. Masih saling diam dan mengunci bibir masing-masing. Hanya terdengar embusan napas gelisah. Aku menggigit bibir, kita telah sama-sama sepakat untuk menyudahi segalanya. Segala yang pernah kita mulai bertahun-tahun lalu. Ah, aku tak mampu menahan tangis lebih lama lagi. Lagi pula, sudah hampir gelap, tapi aku tidak ingin membuang kesempatan ini. Kesempatan terakhir kita menatapi langit senja yang oranye. Seoranye kaus kesukaanmu. Kaus yang sedang kau kenakan. Setelah ini, tidak akan ada lagi senja yang bisa kita bagi berdua. Tidak ada lagi obrolan ringan. Tidak ada lagi senyap yang bisa kita nikmati seperti ini. Tidak akan ada lagi kita.

Kau tersenyum, menoleh ke arahku yang hampir saja menumpahkan air mata.
“Langit senja yang indah.” lesung pipitmu muncul di sisi kiri bibirmu. Satu lubang kecil yang Tuhan sematkan pada senyummu yang manis. Yang memikatku bertahun-tahun lalu.

Aku mengangguk. Iya, langit senja…

Lihat pos aslinya 677 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s