Surat Tengah Malam

barya-wresthi-kahwa

Hai, selamat tengah malam.
Apa kabar? Masih sama dia?

Tengah malam begini, aku menulis surat untukmu, yang entah sedang apa dan dengan siapa kau kini. Kuharap, kau sedang tidur. Di kamarmu. Sendiri. Bukan dengan pacarmu itu.
Benar katamu. Bukan hanya Desember dan Januari yang memiliki aroma hujan. Tapi, Februari juga. Ya, Februari yang katanya bulan penuh cinta.

Kau tahu tidak? Di luar rumahku sedang digelimangi rintik hujan tipis-tipis. Setipis harapanku padamu.
Kalau hujan gerimis begini, aku selalu kerap mengingatmu. Kau yang pernah menawarkan sebaris perbincangan padaku. Sebaris yang memanjang menjadi sebuah cerita. Mengapa? Karena hujan selalu identik dengan kenangan. Kenangan yang sayangnya tak ingin kau, atau aku ingat. Kenangan kita.

Baiklah, sudah tengah malam begini, hujan tak kunjung berhenti.
Dan kau. Jangan tanya berada di mana kau kini. Pastilah ada di kepalaku. Mengganggu tidurku. Mengganggu jam terpejamku. Walau malah, kau tak melakukan apa-apa.
Ah, aku terlalu merindukanmu banyak minum kopi…

Lihat pos aslinya 53 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s