Adakah Nanti, Aku dan Kamu?

Selamat malam, kamu.

Begitu yakinnya aku mengucapkan “selamat malam”, seakan tahu kau akan membaca surat ini ketika matahari sudah habis jam kerjanya di hari ini. Tapi, benar adanya karena aku tahu betul kesibukanmu. Kalaupun aku salah, aku harap kamu membacanya saat matahari sudah kembali ke peraduannya.

Bukan karena apa-apa, hanya saja mungkin akan terasa lebih romantis untukmu ketika kamu membacanya saat hari sudah gelap, ketika kamu sedang melepas penat dari padatnya jadwal kegiatanmu.

Dan bisa saja kamu membaca surat ini saat kamu sudah akan terlelap, sehingga aku bisa berharap kamu bermimpi tentang siapa diriku, yang berani mengirimkan surat cinta ini kepadamu.

Maafkan aku, yang terlalu banyak berharap.

Kamu, bolehkah ku panggil dengan sebutan “Mrs Right?”, mungkin “Nona Ceria?”, atau barangkali “Milikku?”.

Ah, maafkaan aku yang terlalu berharap.

Setiap malam, sebelum aku tertidur, aku selalu mengintip akun twittermu, untuk melihat apa saja yang kamu lakukan seharian ini. Aku buka satu persatu foto di akun instagrammu, tentu saja kau tahu maksudku. Salah sendiri cantik berlebihan, aku tak bisa berhenti membayangkan senyuman di wajahmu. Sesekali aku mendengarkan suaramu, sungguh sangat nyaman di telingaku, terasa hangat di dadaku.

Oh iya, besok malam kita ada janji, kan? Iya, makan malam? Aku harap kamu tidak lupa.

Luar biasa, bahkan sebelum aku bermimpi di alam bawah sadarku, aku sudah bermimpi di kehidupan nyata.
Kamu harus bertanggung jawab. Aku harap kita bisa saling sapa, di kehidupan nyata, atau mungkin kita bisa bertemu, bertatap muka, kemudian berkenalan. Atau paling tidak sebatas bersalaman saja, lalu pergi sebagai seseorang yang tidak mengenal satu sama lain.

Adakah nanti, kita bisa melakukan janji yang ku buat-buat?
Adakah nanti, aku dan kamu tidak lagi hanya ada dalam mimpiku saja?

Aku ingin bertemu… Ah, maafkan aku yang kini jadi terlalu banyak meminta.

Tertanda,

Pengagummu yang hanya bisa mencintaimu lewat telfon genggam, kadang-kadang dari Tv.

Bagaimana kalau kupanggil kamu kakak? Karena usia kita selisih 2 tahun. Mungkin dengan begitu kamu mau bertemu denganku.

Aduh, maafkan aku yang terlalu berharap.

N.B : Aku (masih) berharap kita bisa saling sapa, yang berlanjut kemudian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s